Thursday, November 27, 2025

II Timotius 2:22-26

Timotius Berjuang

A. Ringkasan Khotbah

Beberapa filsuf menginjak kesamaan dalam mengusung tema tentang kehidupan. Mereka melihat hidup adalah perjuangan. Perjuangan melawan hambatan, melawan ketiadaan makna, atau melawan hal-hal lainnya. Apapun itu, perjuangan ini tidak akan berhenti sampai hembusan nafas terakhir. Jikalau demikian apa yang diperjuangkan orang percaya dalam kehidupan pelayanan? Khotbah berikut memetik dan meneladani pengalaman perjuangan Timotius dalam melayani Tuhan Yesus.

1. Penguasaan Diri

Kehidupan pelayanan Timotius dapat dikatakan lebih dari sekedar kompleks. Ragam kesulitan dan tantangan memenuhi dunianya. Di usia yang relatif muda, Timotius harus berhadapan dengan ajaran palsu dan penganiayaan. Itulah sebabnya Paulus berpesan supaya anak rohaninya tetap menguasai diri di tengah pelayanan yang kompleks. Kehidupan pelayanan adalah perjuangan dalam menguasai diri.

Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni. (II Tim 2:22)

2. Kesabaran 

Tidak hanya melawan nafsu yang berasal dari dalam dirinya tetapi Timotius juga melawan pendebat-pendebat sesat yang berseliweran (II Tim 2:17). Mereka terus menerus mengupayakan kekacauan dan pertengkaran seperti segerombolan lalat yang mengerumuni kotoran. Paulus menasehati supaya Timotius mengasah kesabarannya dalam menghadapi pendebat-pendebat sesat ini. Kehidupan pelayanan adalah perjuangan untuk tetap sabar.

Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, (II Tim 23)

sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar (II Tim 2:24)

3. Konsentrasi

Pengendalian diri dan kesabaran hanya dapat diperjuangkan dengan tetap konsentrasi kepada Tuhan Yesus. Sekalipun pendebat-pendebat itu menjengkelkan, Timotius tidak boleh terpancing dan melenceng dari konsentrasinya terhadap panggilan Injil Yesus Kristus demi keselamatan orang berdosa. Kehidupan pelayanan adalah perjuangan untuk tetap konsentrasi pada panggilan Tuhan.

dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, (II Tim 2:25)

dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya. (II Tim 2:26)

B. Kesimpulan

Kehidupan pelayanan adalah perjuangan dalam penguasaan diri, sabar, dan konsentrasi pada panggilan Tuhan.

C. Kebaruan

Dalam II Tim 2:22 kata "nafsu" berasal dari kata Epithumia dalam bahasa Yunani yang berarti hasrat, keinginan, atau nafsu birahi.

D. Refleksi 

Saya diingatkan bahwa perjuangan dalam pelayanan tidak terpisahkan dan perjuangan ini belum selesai sampai Tuhan Yesus menjemput. 

E. Kata Bijak

Hidup tanpa perjuangan seperti lilin tanpa api.


Friday, November 21, 2025

Kisah Para Rasul 9:19-22

Titik Balik Paulus

A. Ringkasan Khotbah

Saat seseorang berubah secara drastis ke arah yang baik artinya ia telah mengalami titik balik kehidupan. Namun perubahan drastis yang dimaksud sering kali kabur dan tidak jelas. Sulit untuk menggambarkan seberapa besar perubahan untuk dapat dikatakan sebagai perubahan drastis. Kesulitan yang sama terkadang melilit kehidupan orang percaya. Perjumpaan dengan Yesus Kristus adalah titik balik dari kehidupan yang berdosa menuju kehidupan yang memuliakan Tuhan. Perubahan drastis seperti apa yang akan terjadi? Khotbah berikut memperlihatkan perubahan drastis Paulus saat mengalami titik balik dalam Tuhan Yesus.

1. Menangkap Menjadi Bersekutu 

Terang Dunia yang membutakan Paulus menjadi momen titik balik kehidupannya. Ia telah menemukan kebenaran yang selama ini didambakan. Pertemuan dengan Tuhan Yesus mengubah Paulus dari orang yang bersemangat menangkap dan membunuh orang percaya (Kis 9:1, 2) menjadi bagian dari persekutuan orang percaya. Titik balik orang percaya mengubah dirinya untuk bersekutu dalam komunitas orang percaya.

Dan setelah ia makan, pulihlah kekuatannya. Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik. (Kis 9:19)

2. Membungkam Menjadi Memberitakan

Sebelumnya Paulus sangat sensitif dengan berita tentang Tuhan Yesus (Injil). Ia memiliki hasrat yang brutal untuk membungkam setiap mulut yang menyebut nama Tuhan dan kini mulutnya sendiri yang paling lantang memberitakan Injil. Titik balik orang percaya mengubahnya dirinya menjadi pemberita Injil Yesus Kristus.

Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. (Kis 9:20)

3. Menyangkal Menjadi Membuktikan 

Sebelumnya Paulus menganggap Tuhan Yesus adalah penyesat dan penista agama Yahudi tetapi kini ia sendiri berusaha membuktikan kepada orang Israel bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias Anak Allah yang menyelamatkan. Titik balik orang percaya mengubahnya dirinya menjadi pembukti Yesus Kristus adalah Anak Allah.

Semua orang yang mendengar hal itu heran dan berkata: "Bukankah dia ini yang di Yerusalem mau membinasakan barangsiapa yang memanggil nama Yesus ini? Dan bukankah ia datang ke sini dengan maksud untuk menangkap dan membawa mereka ke hadapan imam-imam kepala?" (Kis 9:21)

Akan tetapi Saulus semakin besar pengaruhnya dan ia membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan, bahwa Yesus adalah Mesias. (Kis 9:22)

B. Kesimpulan

Titik balik mengubah orang percaya untuk bersekutu, memberitakan dan membuktikan Tuhan Yesus adalah Anak Allah yang menyelamatkan.

C. Kebaruan

Kata "Mesias" dalam Kis 9:22 berasal dari kata Kristos dalam bahasa Yunani yang berarti Yang Diurapi atau Anak Allah.

D. Refleksi 

Saya mengintropeksi diri dan melihat kembali seberapa besar perubahan yang Tuhan Yesus kerjakan dalam hidup saya. Ternyata sangat besar dan nyata.

E. Kata Bijak

Menginjak titik balik melaju makin baik.


Saturday, November 15, 2025

Yohanes 21:15-19

Petrus Jatuh Bangun

A. Ringkasan Khotbah

Istilah jatuh bangun seakan memaparkan adegan seorang anak kecil yang sedang belajar berjalan. Tidak peduli seberapa sering ia jatuh namun dengan mudahnya ia berdiri kembali. Berbeda dengan jatuh dalam kegagalan hidup, tidak semua orang mampu untuk bangun lagi. Itulah sebabnya firman Tuhan mengajarkan kiat-kiat melalui pengalaman Petrus. Khotbah berikut menunjukkan cara Petrus bangun dari kejatuhan yang sangat memilukan. 

1. Menghadap 

Penyangkalan membawa Petrus jatuh terkapar dalam lubang kegagalan. Kegagalan mengikut Tuhan memaksa ia beralih dari Penjala Manusia dan kembali menjadi penjala ikan. Kesempatan untuk keluar dari kegagalan muncul saat Tuhan Yesus menghampirinya. Petrus tidak menghindar saat diajak berbicara. Ia berani menghadap Tuhan yang telah ia sangkal. Untuk bangun dari kegagalan harus dimulai dari berani menghadap Tuhan.

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku." (Yoh 21:15)

Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku." (Yoh 21:16)

2. Mengaku

Berani menghadap Tuhan tidak secara spontan membawa Petrus bangun dari kegagalan. Ia harus berhadapan juga dengan pertanyaan-pertanyaan Tuhan Yesus. Kepercayaan dirinya yang selama ini menjadi kebanggaannya harus diganti dengan pengakuan. Ia harus mengakui cintanya yang rapuh kepada Tuhan sebanyak 3 kali. Untuk bangun dari kegagalan harus berani mengakui kelemahan.

Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku. (Yoh 21:17)

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki." (Yoh 21:18)

3. Mengikut

Langkah akhir untuk bangun dari kegagalan adalah mengikuti perintah Tuhan. Sepenggal kalimat yang sangat familiar keluar dari mulut Tuhan Yesus "Ikutlah Aku". Perkataan yang singkat dan padat namun membutuhkan waktu seumur hidup untuk melakukannya. Untuk bangun dari kegagalan harus berani tetap mengikut Tuhan.

Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku." (Yoh 21:19)

B. Kesimpulan

Bangun dari kejatuhan hanya dapat dilakukan dengan berani menghadap, mengaku, dan mengikut Yesus.

C. Kebaruan

Dalam Yoh 21:15 kata "mengasihi" yang ditanyakan Tuhan berasal dari kata "Agape" dalam bahasa Yunani yang digunakan untuk menggambarkan kasih Tuhan yang besar. Sedangkan Petrus membalas dengan kata mengasihi yang berasal dari kata "Phileo" yang digunakan untuk menggambarkan kasih pertemanan.

D. Refleksi 

Saya belajar dari pengalaman Petrus untuk dapat terus bangkit dari kegagalan dan setia ikut Tuhan.

E. Kata Bijak

Jatuh itu biasa tetapi mampu bangun itu usaha.


Filipi 2:12-18

Perseverence Of The Saints A. Ringkasan Khotbah Tes Pauli dikembangkan oleh Richard Pauli menjadi populer di dunia perekrutan karyawan. Seju...