Showing posts with label Matius. Show all posts
Showing posts with label Matius. Show all posts

Thursday, February 12, 2026

Matius 19:1-6

完 Sempurna

A. Ringkasan Khotbah

Zaman ini menyediakan ruang besar untuk mengekspresikan diri sehingga definisi melayang bebas. Setiap orang bebas menetapkan standar hidup sempurna bagi dirinya tanpa harus memikirkan nilai-nilai di sekelilingnya. Meskipun demikian aksara 完 (sempurna) tetap menjadi pengingat akan gambaran kesempurnaan yang sejalan dengan ajaran Alkitab. Aksara 完 merupakan hasil gabungan dari aksara 二 (dua) + 儿 (orang) = 元 (semula) + 宀 (atap rumah) = 完 (sempurna), artinya kesempurnaan sejak semula digambarkan dengan dua orang yang dipersatukan di bawah satu atap rumah (keluarga). Khotbah berikut memperlihatkan ajaran Tuhan Yesus tentang keluarga yang dipersatukan oleh Tuhan.

1. Maksud Tuhan 

Pelayanan Tuhan Yesus memberkati orang banyak dengan kebenaran dan mujizat. Alhasil semakin banyak orang mengikuti-Nya. Pemandangan ini menusuk mata orang Farisi. Segala upaya diarahkan untuk menjebak Tuhan Yesus. Kali ini mereka menggunakan isu perceraian dalam hukum Musa. Tetapi Tuhan menangkis niat jahat mereka dengan menunjukkan bahwa maksud semula manusia diciptakan adalah untuk hidup berpasangan. Kesempurnaan adalah memenuhi maksud Tuhan sejak semula.

Setelah Yesus selesai dengan pengajaran-Nya itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang sungai Yordan. (Mat 19:1)

Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan Iapun menyembuhkan mereka di sana. (Mat 19:2)

Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?" (Mat 19:3)

Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? (Mat 19:4)

2. Cara Tuhan

Maksud Tuhan selalu dilengkapi dengan cara Tuhan yang indah. Untuk memenuhi maksud Tuhan maka seorang laki-laki dewasa akan meninggalkan orangtuanya dan bersatu dengan isterinya dalam satu atap rumah untuk membentuk keluarga baru. Kesempurnaan adalah memenuhi cara Tuhan membentuk keluarga.

Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. (Mat 19:5)

3. Aturan Tuhan

Ketika sebuah keluarga baru yang dibentuk dari bubuhan sidik jari Tuhan maka ikatan yang terbentuk bersifat kekal. Tuhan yang menyatukan maka tidak ada yang boleh memisahkannya. Kesempurnaan adalah mematuhi aturan Tuhan dalam keluarga.

Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." (Mat 19:6)

B. Kesimpulan

Kesempurnaan dicapai melalui maksud, cara, dan aturan Tuhan dalam mempersatukan dua orang menjadi sebuah keluarga baru.

C. Kebaruan

Perkataan Tuhan Yesus dalam Mat 19:5 merupakan kutipan dari Kej 2:24 dalam Perjanjian Lama.

Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. (Kej 2:24) 

D. Refleksi 

Saya mengimani bahwa Tuhan adalah Pemrakarsa keluarga dan aturan Tuhanlah yang berlaku di dalamnya.

E. Kata Bijak

Dua insan satu atap, satu Tuhan satu tujuan.


Saturday, December 27, 2025

Matius 14:22-33

Tuhan Penuh Kemurahan

A. Ringkasan Khotbah

Pada tahun 2024 Charity Aid Foundation menobatkan Indonesia sebagai negara yang paling dermawan untuk ketujuh kalinya. Kemurahan hati orang Indonesia diakui dunia. Banyak yang bersedia menolong orang susah dengan uang maupun tenaga. Apakah orang percaya termasuk di dalamnya? Khotbah berikut membahas kemurahan Tuhan Yesus sebagai teladan bagi semua orang percaya.

1. Perasaan ditinggalkan

Murid-murid yang kenyang dengan roti dan ikan diminta untuk berlayar terlebih dahulu. Ia menuju ke bukit untuk berdoa sendirian hingga malam. Tiba-tiba angin dan ombak yang sangat ganas menerpa. Kali ini tidak ada Tuhan Yesus yang tidur di kapal (Mat 8:23-27). Mereka benar-benar merasa ditinggalkan.

Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. (Mat 14:22)  

Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. (Mat 14:23)  

Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. (Mat 14:24)  

2. Perasaan Takut

Tanpa Tuhan Yesus mereka sangat ketakutan. Indera murid-murid terbutakan oleh rasa takut. Di tengah krisis, Tuhan Yesus datang untuk menunjukkan kemurahan-Nya. Tetapi mereka tidak menyambutnya dengan "Shalom" tetapi "hantu". Bahkan suara-Nya pun diragukan. Itulah sebabnya Petrus ingin memastikan dengan turun ke air dan ketakutan kembali menggagalkannya. Mereka benar-benar ketakutan.

Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. (Mat 14:25)  

Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut. (Mat 14:26)  

Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" (Mat 14:27)  

Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." (Mat 14:28)  

Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. (Mat 14:29)  

Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" (Mat 14:30)  

3. Perasaan Takjub

Tuhan Yesus yang penuh kemurahan tidak tersinggung dengan reaksi murid-murid. Ia segera menolong Petrus dan naik ke perahu bersamanya. Tuhan menolong di waktu yang tepat tanpa memperhitungkan kesalahan mereka. Perasaan takjub menggantikan rasa ditinggalkan dan takut. Mereka tidak dapat menahan diri untuk menyembah Tuhan. 

Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" (Mat 14:31)  

Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah. (Mat 14:32)  

Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah." (Mat 14:33)  

B. Kesimpulan

Tuhan penuh kemurahan mengubah perasaan ditinggalkan dan takut menjadi penyembahan yang dihiasi rasa takjub.

C. Kebaruan

Dalam Mat 14:33 mencatat bahwa murid-murid pertama kali menyebut Tuhan Yesus sebagai Anak Allah.

D. Refleksi 

Terkadang saya berpikir Tuhan terlalu lambat untuk menolong dan firman Tuhan mengingatkan bahwa Tuhan yang penuh kemurahan akan segera menolong di waktu Tuhan yang indah.

E. Kata Bijak

Angin bertiup kencang, kemurahan Tuhan terpancang.


Friday, September 19, 2025

Matius 5:13-16

Budaya & Aku

A. Ringkasan Khotbah

Menurut beberapa sosiolog syarat kelestarian budaya adalah fungsinya bagi masyarakat. Jika budaya kehilangan fungsi maka ia akan ditinggalkan atau terseleksi. Bagi mereka salah satu upaya untuk mempertahankan budaya adalah dengan reinterpretasi atau memberikan makna baru. Oleh sebab itu makna yang baru harus berasal dari kebenaran sejati yang tidak usang digerus waktu. Di sinilah peran penting orang percaya untuk menjadi sarana reinterpretasi budaya. Khotbah berikut membahas ajaran Tuhan Yesus tentang identitas murid-murid-Nya yang memberi pengaruh langsung pada budaya.

1. Menyeimbangkan 

Tuhan Yesus mengatakan bahwa orang percaya adalah garam. Garam berfungsi sebagai penyeimbang rasa dan menjadikan makanan terasa enak. Artinya ketika orang percaya berada di tengah budaya maka ia berfungsi menyeimbangkan budaya dari pengaruh dan perubahan yang tidak benar. Orang percaya menyeimbangkan budaya.

"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. (Mat 5:13)  

2. Menuntun

Keseimbangan budaya membutuhkan upaya terus menerus dalam melawan pengaruh dan perubahan oleh arus dunia. Tuhan mengatakan orang percaya adalah terang dunia. Artinya orang percaya dapat menyeimbangkan budaya dengan cara hidup bijaksana di dalam Tuhan. Dengan demikian budaya akan diterangi dan dituntun kepada kebenaran yang sejati. Orang percaya menuntun budaya kepada kebenaran Tuhan.

Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. (Mat 5:14)  

3. Merepresentasikan

Tuhan Yesus memperlihatkan posisi orang percaya berada di atas kaki dian. Artinya orang percaya yang berfungsi sentral dalam pelestarian budaya sudah selayaknya berada di posisi strategis. Tempat di mana semua orang dapat memandang kemuliaan Tuhan. Kemuliaan yang mengusir bayang-bayang pengaruh buruk dan meneranginya dengan kebenaran Tuhan. Orang percaya merepresentasikan Tuhan di tengah budaya.

Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. (Mat 5:15)   

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Mat 5:16)  

B. Kesimpulan

Orang percaya berfungsi menyeimbangkan, menuntun, dan merepresentasikan kemuliaan Tuhan atas budaya.

C. Kebaruan

Pengajaran Yesus tentang garam mengingatkan makna garam bagi orang Israel adalah sebagai lambang perjanjian dan perkenanan Tuhan. 

Dan tiap-tiap persembahanmu yang berupa korban sajian haruslah kaububuhi garam, janganlah kaulalaikan garam perjanjian Allahmu dari korban sajianmu; beserta segala persembahanmu haruslah kaupersembahkan garam. (Im 2:13)

D. Refleksi 

Saya diingatkan untuk menjadi agen pelestarian budaya dengan menundukkannya di bawah terang firman Tuhan.

E. Kata Bijak

Waktu menggerakkan, orang percaya mengarahkan.


Friday, August 22, 2025

Matius 7:7-11

Doa Dijawab Tuhan

A. Ringkasan Khotbah

Seringkali orang enggan berdoa karena berdoa serasa berteriak di tengah samudera. Terlalu luas untuk dijangkau dan terlalu pelan untuk didengar. Tidak ada kepastian dan tidak tahu kapan dijawab. Gambaran ini serupa tembok tinggi yang menghalangi seseorang untuk berlutut dan berdoa. Tetapi tembok ini tidak cukup kuat untuk menghalangi firman Tuhan yang perkasa. Segera roboh saat ajaran Tuhan Yesus menggema. Khotbah berikut mengupas ajaran Tuhan Yesus tentang kehidupan doa orang percaya.

1. Tekun 

Serangkaian serial khotbah di bukit diteruskan dengan pengajaran tentang doa. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa berdoa harus dilakukan dengan tekun. Minta, cari, dan ketoklah secara terus menerus maka pendoa akan menemukan jawaban. Berdoa dengan tekun dan jawaban akan didapatkan.

Mat 7:7  "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. 

Mat 7:8  Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. 

2. Sadar

Pertanyaan selanjutnya adalah jawaban doa yang diberikan setelah mencari, meminta, dan mengetok terus menerus. Apakah jawaban doa akan sesuai dengan permintaan? Untuk menjawab pertanyaan ini Tuhan Yesus memberikan perbandingan antara ayah di dunia dan Bapa di surga. Ayah di dunia saja tahu yang baik untuk anaknya terlebih Bapa yang di surga. Bapa akan memberikan yang terbaik bagi orang yang meminta bahkan melebihi pengetahuan dirinya. Itulah sebabnya berdoa harus disertai dengan kesadaran bahwa Bapa akan memberikan yang terbaik.

Mat 7:9  Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, 

Mat 7:10  atau memberi ular, jika ia meminta ikan? 

Mat 7:11  Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya." 

B. Kesimpulan

Berdoalah dengan tekun dan penuh kesadaran bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik.

C. Kebaruan

Kata "minta", "cari", dan "ketok" dalam bahasa Yunani ditulis dalam bentuk present imperatif artinya sebuah perintah yang dapat langsung dimengerti oleh pendengar dan harus dilakukan secara berulang-ulang.

D. Refleksi 

Saya harus semakin tekun berdoa untuk menemukan jawaban terbaik yang telah Tuhan sediakan.

E. Kata Bijak

Doa adalah langkah demi langkah menuju jawaban dari Tuhan.


Friday, August 8, 2025

Matius 26:36-46

Doa Mengubah Diriku

A. Ringkasan Khotbah

Banyak orang berharap agar doa dapat segera mengubah keadaan buruk menjadi baik. Akibatnya kekecewaanlah yang mereka dapatkan. Keadaan buruk tetap buruk dan tidak berubah sedikit pun. Apakah itu berarti doa tidak mengubah apapun? Doa terkadang mengubah keadaan dan terkadang mengubah diri kita menjadi kuat menghadapi keadaan. Demikian yang ditunjukkan Tuhan Yesus dalam pergumulan hidup-Nya. Khotbah berikut membahas perubahan yang terjadi dalam diri Tuhan Yesus ketika Ia berdoa.

1. Lemah 

Tuhan Yesus berada di titik terendah dalam hidup-Nya. Ia tahu persis berapa cambukan, pukulan, dan tamparan yang harus diterima dalam waktu dekat. Sedih dan gentar adalah tanda kelemahan diri-Nya yang bergulat dengan keadaan. Tuhan Yesus lemah ketika harus berhadapan dengan jalan salib.

Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa." (Mat 26:36)

Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, (Mat 26:37) 

lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku." (Mat 26:38) 

2. Berdoa

Berada di titik terendah tidak membuat Tuhan Yesus kehilangan kendali. Solusi terbaik dalam menghadapi keadaan buruk adalah mencari Allah dengan berdoa. Ia mencurahkan isi hatinya kepada Allah.

Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (Mat 26:39) 

Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? (Mat 26:40) 

Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah." (Mat 26:41) 

3. Kuat

Doa yang Tuhan Yesus panjatkan tidak mengubah keadaan buruk yang harus dihadapi tetapi doa mengubah diri-Nya yang lemah menjadi kuat. Tuhan Yesus yang gentar kini berdiri tegap dan berkata dengan lantang "Jadilah kehendak-Mu". Sebuah ungkapan yang menunjukkan diri-Nya telah dikuatkan untuk melangkah menuju salib.

Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!" (Mat 26:42) 

Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat. (Mat 26:43) 

Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga. (Mat 26:44)

Sesudah itu Ia datang kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa. (Mat 26:45) 

Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat." (Mat 26:46) 

B. Kesimpulan

Doa mengubah yang lemah menjadi kuat dalam menghadapi penderitaan.

C. Kebaruan

Taman Getsemani berasal dari kata Gethsemane dalam bahasa Yunani yang berarti Pengirik Minyak Zaitun.

D. Refleksi 

Saya diingatkan kembali akan kuasa doa yang mampu mengubah diri saya menjadi kuat di tengah pergumulan.

E. Kata Bijak

Doa adalah jangkar yang mengait kuat di tengah amukan ombak.


Saturday, May 31, 2025

Matius 12:9-14

Engkau Berharga

A. Ringkasan Khotbah

Sebuah istilah berbunyi "Kamu adalah orang yang berharga di tempat yang tepat." Keberhargaan seseorang bergantung kepada lingkungan dan pandangan orang-orang di sekitarnya. Demikianlah kenyataan hidup. Orang yang kuat dibedakan dengan orang yang digerogoti kelemahan fisik. Di mata dunia mereka dipandang sebelah mata tetapi bagi Tuhan mereka adalah biji mata-Nya yang sangat berharga. Khotbah berikut memperlihatkan keberhargaan manusia yang menyebabkan Tuhan rela melakukan apa saja demi menyelamatkannya.

1. Rela Dipersalahkan 

Kehadiran Tuhan Yesus menarik perhatian banyak orang termasuk di dalamnya orang Farisi sibuk mencari kesalahan-Nya. Seorang yang duduk tidak berdaya membuka kesempatan bagi mereka untuk mencari kesalahan Yesus. Mereka ingin membenturkan Yesus dengan aturan hari Sabat. Namun tidak terdapat sedikit pun keraguan dalam diri Tuhan untuk menyembuhkannya di hari Sabat. Orang yang mati sebelah tangan berharga di mata Tuhan sehingga Ia rela dipersalahkan.

Setelah pergi dari sana, Yesus masuk ke rumah ibadat mereka. (Mat 12:9)

Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. Mereka bertanya kepada-Nya: "Bolehkah menyembuhkan orang pada hari Sabat?" Maksud mereka ialah supaya dapat mempersalahkan Dia. (Mat 12:10)  

2. Rela Menolong 

Tidak hanya menyembuhkan orang tersebut, Ia meluruskan penafsiran yang salah atas hari Sabat. Ini adalah teguran keras bagi orang Farisi yang seharusnya berbuat baik pada hari Sabat namun yang dilakukan malah sebaliknya yaitu merancang kejahatan. Bagi mereka orang yang mati sebelah tangan tidak urgen untuk ditolong. Ia masih bisa menunggu dalam penderitaan sampai Sabat berlalu. Tetapi orang yang mati sebelah tangan berharga di mata Tuhan sehingga Ia rela menolong.

Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Jika seorang dari antara kamu mempunyai seekor domba dan domba itu terjatuh ke dalam lobang pada hari Sabat, tidakkah ia akan menangkapnya dan mengeluarkannya? (Mat 12:11)  

Bukankah manusia jauh lebih berharga dari pada domba? Karena itu boleh berbuat baik pada hari Sabat." (Mat 12:12)  

Lalu kata Yesus kepada orang itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Dan ia mengulurkannya, maka pulihlah tangannya itu, dan menjadi sehat seperti tangannya yang lain. (Mat 12:13)  

3. Rela Terancam

Tuhan tahu bahwa apa yang dilakukannya akan memperuncing kebencian orang Farisi dan mendatangkan ancaman. Tetapi apapun itu tentu tidak sebanding dengan biji mata-Nya. Ia memilih untuk menyingkir dan pergi dari rumah ibadat. Orang yang mati sebelah tangan berharga di mata Tuhan sehingga Ia rela terancam.

Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan bersekongkol untuk membunuh Dia. (Mat 12:14) 

Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana. Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. (Mat 12:15) 

B. Kesimpulan

Yesus rela dipersalahkan dan diancam untuk menolong karena kita berharga di mata-Nya.

C. Kebaruan

Orang-orang Farisi percaya bahwa ketentuan Sabat dapat dilanggar hanya untuk kasus-kasus yang serius atau berkaitan dengan nyawa. 

D. Refleksi 

Saya ingin belajar melihat apa yang tidak dilihat manusia namun menjadi pusat perhatian Tuhan yaitu jiwa-jiwa yang membutuhkan keselamatan.

E. Kata Bijak

Sekalipun dianggap sampah sesungguhnya permata di pemandangan Tuhan.


Friday, April 18, 2025

Matius 28:1-10

Yesus Bangkit Bagiku

A. Ringkasan Khotbah

Fenomena Lazarus adalah istilah medis di mana seseorang tampak hidup atau bangkit kembali dari kematian. Fenomena ini tidak disengaja dan tidak dapat dipastikan penyebabnya. Namun orang yang mengalaminya juga akan mati lagi. Berbeda dengan kebangkitan Tuhan Yesus yang sudah direncanakan sejak awal. Kebangkitan Tuhan Yesus bukan semata-mata ilusi dan tidak sementara. Kenyataan kebangkitan ini dibuktikan oleh firman Tuhan yang akan dibahas dalam khotbah ini.

1. Mendengar Langsung 

Kematian Yesus mengoncang nyali murid-murid-Nya. Hari yang mengerikan memaksa mereka bersembunyi dalam ketakutan. Yang tersisa hanyalah perempuan-perempuan yang memaksakan diri untuk menelusuri lorong sunyi menuju kuburan Tuhannya. Bumi terasa bergoncang. Apakah ini hanya perasaan saja atau puncak kesedihan bercampur lelah? Ternyata ini bukan sekedar perasaan. Malaikat turun dan berbicara langsung kepada perempuan-perempuan. Dalam ketakutan mereka mendengarkannya.

Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu. (Mat 28:1)  

Maka terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya. (Mat 28:2)  

Wajahnya bagaikan kilat dan pakaiannya putih bagaikan salju. (Mat 28:3)  

Dan penjaga-penjaga itu gentar ketakutan dan menjadi seperti orang-orang mati. (Mat 28:4)

Akan tetapi malaikat itu berkata kepada perempuan-perempuan itu: "Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. (Mat 28:5)

 Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. (Mat 28:6a)  

2. Melihat ke Kuburan

Berita dari malaikat mencampuradukkan perasaan. Mereka terpana dan terpaku oleh berita yang didengar. Lalu Malaikat mengajak perempuan-perempuan untuk melihat ke dalam kubur. Sungguh tidak ada mayat Tuhan di dalam kuburan. Ia telah bangkit.

Mari, lihatlah tempat Ia berbaring. (Mat 28:6b)  

Dan segeralah pergi dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati. Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia. Sesungguhnya aku telah mengatakannya kepadamu." (Mat 28:7)  

3. Memeluk Kaki Tuhan

Dalam kebahagiaan mereka berlari memberitakan kabar baik itu. Dalam nafas yang terengah-engah terdengar suara yang familiar. Langkah kaki pun dihentikan. Itu suara Tuhan Yesus dan Ia berdiri tepat di depannya. Perempuan-perempuan tidak mampu menahan perasaan sembari memeluk kaki Tuhan. Aku memeluk-Nya dengan tanganku. Tuhan benar-benar bangkit.

Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus. (Mat 28:8)  

Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: "Salam bagimu." Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya. (Mat 28:9)  

Maka kata Yesus kepada mereka: "Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku." (Mat 28:10)  

B. Kesimpulan

Yesus terbukti bangkit bagiku melalui berita malaikat, saksi, dan perjumpaan langsung para perempuan dengan-Nya.

C. Kebaruan

Perempuan-perempuan memberanikan diri melihat ke kubur Tuhan Yesus sementara murid-murid lainnya bersembunyi.

D. Refleksi 

Saya belajar dalam hal cinta kepada Tuhan terkadang perempuan lebih berani tanpa harus kuatir ini itu.

E. Kata Bijak

Mati demi dosa, bangkit demi cinta.


Friday, April 11, 2025

Matius 20:25-28

Yesus Melayaniku 

A. Ringkasan Khotbah

Di Indonesia Ilmu Padi merupakan ajaran yang populer. Semakin berisi semakin merunduk. Artinya apabila seseorang semakin berprestasi maka harus semakin rendah diri dan melayani. Tetapi faktanya sedikit sekali orang yang mampu menghidupinya. Semakin berprestasi semakin besar pula kebutuhan untuk dilayani. Alhasil Ilmu Padi hanya mampu berdiri di belakang Hukum Rimba. Yang lemah melayani yang kuat. Kenyataan serupa sudah muncul pada zaman Tuhan Yesus. Khotbah berikut memperlihatkan tanggapan dan ajaran Yesus mengenai kenyataan tersebut.

1. Hukum Rimba 

Tuhan Yesus mulai mengajar murid-murid-Nya mengenai kekuasaan ketika seorang ibu rela sujud demi meminta jabatan untuk anak-anaknya. Jabatan dilihat sebagai previlese untuk mendominasi bak seekor singa yang mengaum di tengah rimba. Tuhan Yesus menunjukkan kenyataan dan pandangan umum bahwa jabatan tinggi berarti mendominasi.

Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. (Mat 20:25)  

2. Hukum Hamba

Tentu saja Hukum Rimba adalah hukum yang keliru di mata Tuhan. Ia menggantikannya dengan Hukum Hamba. Semakin tinggi prestasi/jabatan seseorang maka semakin rendahlah pekerjaan yang harus dilakukan demi memuaskan orang lain dengan kebenaran. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa jabatan tinggi berarti melayani.

Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, (Mat 20:26)  

dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; (Mat 20:27)  

3. Dasar Hukum

Hukum Hamba yang diajarkan Tuhan Yesus bukan sekedar konsep belaka. Ia sendiri telah melakukannya jauh-jauh hari dan terus dipegang sampai nyawa-Nya terenggut di kayu salib. Pelayanan Tuhan Yesus adalah dasar dari Hukum Hamba.

sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Mat 20:28)

Kesimpulan Khotbah:  Kristus mengajarkan untuk melayani dan mengorbankan diri seperti yang telah dilakukan bagi orang berdosa.

B. Kebaruan

Kata hamba dalam Mat 20:27 berasal dari kata doulos dalam bahasa Yunani yang berarti seorang budak atau orang yang menyerahkan dirinya pada keinginan orang lain.

C. Refleksi 

Saya belajar semakin tinggi jabatan yang dipercayakan berarti konsep pelayanan harus tertancap semakin dalam.

D. Kata Bijak

Pemimpin yang tidak melayani adalah penindas yang menyakiti.


Friday, December 13, 2024

Matius 1:18-25


Keputusan Yang Benar

A. Ringkasan Khotbah

Mengambil keputusan merupakan bagian yang tidak terelakkan dari keseharian manusia. Sejak melek di pagi hari keputusan demi keputusan sudah mengantri di depan kita. Tanpa sadar sejuta pengalaman mengambil keputusan pun terkumpulkan. Di antara semuanya keputusan dapat dibagi menjadi keputusan yang baik, tidak baik, atau benar. Keputusan yang benar pasti baik dan yang baik belum tentu benar maka sudah tentu semua orang mendambakan keputusan yang benar. Untuk dapat meraih keputusan yang benar memerlukan prinsip yang benar tetapi sayangnya seringkali prinsip ini bersembunyi dan menunggu untuk ditemukan. Khotbah ini mengajak pembaca menemukan prinsip-prinsip Yusuf dalam menentukan keputusan yang benar di tengah pergumulannya.

1. Pertimbangan 

Babak awal dari penelusuran prinsip keputusan Yusuf dibuka dengan berita kehamilan Maria. Berita ini sungguh menusuk hati Yusuf. Meskipun Maria mencoba menjelaskan namun suara Maria terdengar menggaung di telinga Yusuf. Permasalahan ini menuntut Yusuf segera mengambil keputusan yang benar. Yusuf mulai mempertimbangkan segala hal dengan matang dan memutuskan untuk menceraikan Maria diam-diam. Ini adalah pertimbangan yang paling baik menurut Yusuf. Prinsip pengambilan keputusan Yusuf diawali dengan pertimbangan.

Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. (Mat 1:18)

Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. (Mat 1:19)

2. Kehendak Tuhan

Tetapi ketika Yusuf berpikir bahwa pertimbangannya sudah menghasilkan keputusan yang benar, Tuhan berfirman kepadanya. Kehendak Tuhan dinyatakan dengan lugas dan jelas. Yusuf tersentak mendengar kebenaran itu dan sekarang ia harus mempertimbangkan kembali keputusannya dengan mengutamakan kehendak Tuhan. Prinsip pengambilan keputusan Yusuf adalah firman Tuhan harus menjadi prioritas dibandingkan dengan pertimbangan manusia.

Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. (Mat 1:20)

Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka." (Mat 1:21) 

Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: (Mat 1:22)

"Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" --yang berarti: Allah menyertai kita. (Mat 1:23) 

3. Keputusan Yang Benar

Kehendak Tuhan atas Yusuf menjadikan dirinya tidak ragu dan gentar dalam mengambil keputusan. Pertimbangan pribadi Yusuf yang terbaik gugur bagaikan daun kering ketika berhadapan dengan firman Tuhan. Yusuf memutuskan mengambil Maria menjadi istrinya dan itulah keputusan yang benar dan paling baik seumur hidupnya. Prinsip Yusuf mengambil keputusan adalah berani memutuskan sesuai dengan kehendak Tuhan.

Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, (Mat 1:24)

tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus. (Mat 1:25)

Kesimpulan Khotbah: Keputusan yang benar diambil berdasarkan kehendak Tuhan di dalam firman-Nya. 

B. Kebaruan

Dalam Mat 1:19 kata "tulus hati" berasal dari kata dikaios dalam bahasa Yunani yang berarti orang benar yaitu orang yang hidup benar dengan kebenaran Allah.

C. Refleksi 

Saya perlu menaklukkan diri di bawah firman Tuhan dibandingkan dengan bersandar pada pertimbangan pribadi dalam mengambil keputusan.

D. Kata Bijak

Keputusan yang benar dituju dengan menapaki anak tangga firman.


Friday, November 22, 2024

Matius 13:18-23

 Berbuah Banyak

A.   Ringkasan Khotbah

Menghasilkan buah adalah tujuan utama dari keberadaan tanaman buah. Anehnya tidak semua tanaman buah dapat menggapai tujuan ini. Banyak tanaman buah yang sudah waktunya berbuah namun belum menunjukkan tanda-tandanya. Alhasil tanaman tersebut akan berujung pada sentuhan mata kapak. Begitu pula dengan orang percaya yang seharusnya berbuah bagi Tuhan. Bertahun-tahun rutin ke gereja tetapi tidak juga berbuah bagi Tuhan. Apa penyebabnya? Khotbah ini membahas perumpamaan Tuhan Yesus yang membukakan penyebab dari realita orang percaya yang tidak kunjung berbuah.

1.                Tidak Mengerti

Tuhan Yesus menunjukkan penyebab seseorang tidak berbuah adalah penolakan terhadap firman Tuhan. Ia mendengar firman tetapi tidak berusaha untuk menempatkannya dalam pikiran dan hati. Firman dianggap "angin lalu" sementara ia duduk diam dan tidak menghiraukan firman. Sikap pasifnya menjadikan dirinya rentan terhadap rampasan dari si Jahat. Ia bahkan tidak sempat bertumbuh. Ia tidak berusaha mengerti.

Mat 13:19  Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan.

2.                Tidak Bertahan

Penyebab lainnya adalah kesukaran hidup. Ia mendengar dan menerima firman. Sayangnya ia tidak berusaha mengerti firman tersebut dengan benar. Tanpa pengertian yang benar ia tidak dapat bertumbuh kuat. Akar rohaninya tidak mampu mencengkeram tanah. Ketika keinginan pribadinya tidak sesuai dengan kenyataan maka ia pun mati secara rohani. Ia tidak tahan uji.

Mat 13:20  Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira.

Mat 13:21  Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad.

3.                Tidak Teguh

Bukan hanya kesusahan hidup yang dapat mendorong seseorang mati secara rohani tetapi kesenangan hidup juga memiliki kekuatan yang besar. Tanpa mengerti firman dengan benar kesenangan adalah musuh yang paling menyiksa orang percaya. Kesenangan membiarkan ia bertumbuh lalu mulai mencekiknya secara perlahan-lahan. Terbuai dalam kesenangan menjadikannya tidak sadar bahwa dirinya tercekik dan mati perlahan-lahan. Ia tidak tetap teguh.

Mat 13:22  Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.

4.                Berbuah Banyak

Tuhan Yesus menutup perumpamaan dengan memberikan solusi atas mandeknya pertumbuhan rohani sehingga tidak berbuah. Orang percaya harus mendengar dan mengerti firman. Mengerti firman adalah sebuah upaya aktif di mana seseorang dengan rendah hati menaklukkan pikirannya kepada kebenaran firman Tuhan. Ia belajar, menggali, merenung, dan berusaha melakukannya, itulah makna dari kata "mengerti" yang sesungguhnya. Orang seperti ini kemudian mengalami perubahan hidup dan membuahkan kemuliaan bagi Tuhan. Ia berbuah banyak bagi kemuliaan Tuhan.

Mat 13:23  Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat."

Kesimpulan Khotbah: Benih firman bertumbuh dan berbuah banyak dalam diri orang yang mendengar dan mengerti firman.

B.   Kebaruan

Dalam Mat 3:23 kata "mengerti" berasal dari kata dalam  bahasa Yunani suniemi (kata kerja) yang berarti sebuah aktivitas menyatukan/menempatkan sesuatu ke dalam pikiran.

C.   Refleksi

Tidak cukup hanya membaca firman setiap hari tetapi saya harus belajar firman secara serius untuk dapat berbuah.

D.   Kata Bijak

Satu buah seribu usaha.

 

 

 

Filipi 2:12-18

Perseverence Of The Saints A. Ringkasan Khotbah Tes Pauli dikembangkan oleh Richard Pauli menjadi populer di dunia perekrutan karyawan. Seju...