Saturday, September 27, 2025

Kisah Para Rasul 17:22-34

Budaya Demi Kemuliaan Tuhan

A. Ringkasan Khotbah

Festival Kue Bulan adalah budaya Tionghoa yang kaya akan makna. Kebersamaan dalam keluarga tersurat jelas di dalamnya. Tidak hanya itu pernak-pernik ceritera turut menghiasi budaya ini. Serasa tidak mungkin untuk memisahkan ikatan antara makna dan kepercayaan yang telah melebur menjadi satu. Jikalau demikian bagaimana budaya ini dapat menjadi alat bagi kemuliaan Tuhan dan bagaimana caranya? Khotbah berikut memaparkan cara Paulus sebagai seorang penginjil handal dalam menghadapi situasi yang serupa .

1. Membaur 

Sebagai orang Yahudi seharusnya Paulus merasa jijik dengan budaya orang Atena yang menyembah banyak dewa. Alih-alih menghindar Ia malah membaur ke dalam budaya mereka dan berusaha menyelidiki kebutuhan sesungguhnya di balik semua budaya itu. Upaya ini menuntun Paulus menemukan titik terang. Ternyata kebutuhan mereka adalah Tuhan sejati yang belum mereka kenal. Budaya memuliakan Tuhan jika orang percaya membaur ke dalamnya.

Paulus pergi berdiri di atas Areopagus dan berkata: "Hai orang-orang Atena, aku lihat, bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa. (Kis 17:22) 

Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu. (Kis 17:23)

2. Mencari Kesempatan

Hasil pembauran ini tidak sia-sia. sembari bersoal jawab dengan orang-orang yang ia temukan, kesempatan emas pun datang. Seketika itu juga ia memukul gong Injil sekeras mungkin. Suara menggelegar tentang kebangkitan Yesus tidak lagi terbendung. Budaya memuliakan Tuhan jika orang percaya mencari kesempatan untuk memberitakan Injil.

Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, (Kis 17:24)

dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang. (Kis 17:25)

Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, (Kis 17:26)

supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. (Kis 17:27)

Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga. (Kis 17:28)

Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh berpikir, bahwa keadaan ilahi sama seperti emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia. (Kis 17:29)

Dengan tidak memandang lagi zaman kebodohan, maka sekarang Allah memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat. (Kis 17:30)

Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati." (Kis 17:31)

Ketika mereka mendengar tentang kebangkitan orang mati, maka ada yang mengejek, dan yang lain berkata: "Lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal itu." (Kis 17:32)

3. Memenangkan

Meskipun gong Injil mendatangkan cibiran. Paulus tetap tidak mundur. Ia memperhatikan orang-orang berangsur pergi namun harapannya tetap teguh. Tidak lama kemudian tersisa beberapa orang yang percaya karena Injil. Mereka adalah trofi kemenangan yang ingin Paulus angkat tinggi-tinggi. Budaya memuliakan Tuhan jika orang-orang dimenangkan melaluinya.

Lalu Paulus pergi meninggalkan mereka. (Kis 17:33)

Tetapi beberapa orang laki-laki menggabungkan diri dengan dia dan menjadi percaya, di antaranya juga Dionisius, anggota majelis Areopagus, dan seorang perempuan bernama Damaris, dan juga orang-orang lain bersama-sama dengan mereka. (Kis 17:34)

B. Kesimpulan

Orang percaya membaur, mencari kesempatan, dan memenangkan melalui budaya demi kemuliaan Tuhan.

C. Kebaruan

Menurut tradisi gereja, Dionisius yang percaya kepada Tuhan Yesus melalui penginjilan Paulus kemudian menjadi gembala (uskup) di gereja Atena dan setia sampai akhir hidupnya (mati martir).

D. Refleksi 

Saya terkadang merasa budaya adalah penghambat Injil tetapi sekali lagi firman Tuhan mengajarkan di dalam budaya pun Injil tetap dapat berkumandang.

E. Kata Bijak

Gong Injil berkumandang, tembok budaya tidak mampu menghalang.




Friday, September 19, 2025

Matius 5:13-16

Budaya & Aku

A. Ringkasan Khotbah

Menurut beberapa sosiolog syarat kelestarian budaya adalah fungsinya bagi masyarakat. Jika budaya kehilangan fungsi maka ia akan ditinggalkan atau terseleksi. Bagi mereka salah satu upaya untuk mempertahankan budaya adalah dengan reinterpretasi atau memberikan makna baru. Oleh sebab itu makna yang baru harus berasal dari kebenaran sejati yang tidak usang digerus waktu. Di sinilah peran penting orang percaya untuk menjadi sarana reinterpretasi budaya. Khotbah berikut membahas ajaran Tuhan Yesus tentang identitas murid-murid-Nya yang memberi pengaruh langsung pada budaya.

1. Menyeimbangkan 

Tuhan Yesus mengatakan bahwa orang percaya adalah garam. Garam berfungsi sebagai penyeimbang rasa dan menjadikan makanan terasa enak. Artinya ketika orang percaya berada di tengah budaya maka ia berfungsi menyeimbangkan budaya dari pengaruh dan perubahan yang tidak benar. Orang percaya menyeimbangkan budaya.

"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. (Mat 5:13)  

2. Menuntun

Keseimbangan budaya membutuhkan upaya terus menerus dalam melawan pengaruh dan perubahan oleh arus dunia. Tuhan mengatakan orang percaya adalah terang dunia. Artinya orang percaya dapat menyeimbangkan budaya dengan cara hidup bijaksana di dalam Tuhan. Dengan demikian budaya akan diterangi dan dituntun kepada kebenaran yang sejati. Orang percaya menuntun budaya kepada kebenaran Tuhan.

Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. (Mat 5:14)  

3. Merepresentasikan

Tuhan Yesus memperlihatkan posisi orang percaya berada di atas kaki dian. Artinya orang percaya yang berfungsi sentral dalam pelestarian budaya sudah selayaknya berada di posisi strategis. Tempat di mana semua orang dapat memandang kemuliaan Tuhan. Kemuliaan yang mengusir bayang-bayang pengaruh buruk dan meneranginya dengan kebenaran Tuhan. Orang percaya merepresentasikan Tuhan di tengah budaya.

Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. (Mat 5:15)   

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Mat 5:16)  

B. Kesimpulan

Orang percaya berfungsi menyeimbangkan, menuntun, dan merepresentasikan kemuliaan Tuhan atas budaya.

C. Kebaruan

Pengajaran Yesus tentang garam mengingatkan makna garam bagi orang Israel adalah sebagai lambang perjanjian dan perkenanan Tuhan. 

Dan tiap-tiap persembahanmu yang berupa korban sajian haruslah kaububuhi garam, janganlah kaulalaikan garam perjanjian Allahmu dari korban sajianmu; beserta segala persembahanmu haruslah kaupersembahkan garam. (Im 2:13)

D. Refleksi 

Saya diingatkan untuk menjadi agen pelestarian budaya dengan menundukkannya di bawah terang firman Tuhan.

E. Kata Bijak

Waktu menggerakkan, orang percaya mengarahkan.


Friday, September 12, 2025

Kisah Para Rasul 10:34-36

Budaya Dalam Kekristenan

A. Ringkasan Khotbah

Seorang antropolog bernama Linda Tuhiwai Smith dalam karya tulisnya mengatakan penginjilan Kristen adalah pengikis budaya asli sehingga lambat laun budaya asli akan sirna. Ia menempatkan kekristenan sebagai musuh dari budaya asli yang otentik. Pernyataan ini menyoroti sisi perubahan budaya dan mengabaikan sisi perubahan oleh kasih Tuhan Yesus. Budaya adalah sarana kasih Tuhan kepada semua orang dari semua suku bangsa agar mereka memperoleh keselamatan. Khotbah berikut mengupas pandangan kekristenan terhadap budaya.

1. Melampaui Budaya

Petrus adalah pengabar Injil yang lantang dan berani tetapi sayangnya ia masih terkungkung oleh pemikiran bahwa kasih Tuhan Yesus hanya diperuntukkan kepada orang Israel saja. Pemahaman yang keliru ini kemudian diralat oleh Tuhan sendiri melalui penglihatan dan pengutusan dirinya ke rumah Kornelius  seorang "kafir". Petrus akhirnya pergi dengan memahami sesungguhnya kasih Tuhan dalam Injil diperuntukkan kepada semua orang dan melampaui semua budaya.  

Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. (Kis 10:34)

2. Menerima Budaya

Petrus yang sebelumnya tidak berkenan kepada budaya lain kini melangkahkan kakinya dan masuk ke rumah mereka. Ia tahu Tuhan Yesus telah menerima mereka sehingga tidak ada alasan bagi dirinya untuk jijik dengan budaya yang berbeda. Ia harus menerima semua budaya yang berbeda dari setiap suku bangsa.

Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya. (Kis 10:35)

3. Menginjili Melalui Budaya

Penerimaan akan budaya yang berbeda bukan supaya Petrus berbudaya seperti mereka tetapi supaya kasih Tuhan Yesus sampai kepada mereka. Tanpa membuang waktu Petrus segera memberitakan Injil kepada seisi rumah Kornelius. Dalam Injil mereka mengenal Tuhan Yesus adalah Tuhan atas semua orang, Tuhan atas budaya, dan Tuhan yang menyelamatkan.

Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang. (Kis 10:36)

B. Kesimpulan

Kasih Tuhan melampaui dan menerima budaya sehingga Injil dapat diberitakan melaluinya.

C. Kebaruan

Dalam Kisah Para Rasul 10:34 kata mengerti berasal dari kata katalambano dalam bahasa Yunani yang berarti memahami, mempersepsi, atau mempelajari.

D. Refleksi 

Saya belajar untuk menerima perbedaan dan tidak terpengaruh oleh stigma-stigma masyarakat demi Injil diberitakan ke seluruh suku bangsa.

E. Kata Bijak

Api Injil memurnikan budaya.


Filipi 2:12-18

Perseverence Of The Saints A. Ringkasan Khotbah Tes Pauli dikembangkan oleh Richard Pauli menjadi populer di dunia perekrutan karyawan. Seju...