Thursday, April 2, 2026

Markus 15:33-37

Rela Menderita

A. Ringkasan Khotbah

Tenaga medis umumnya menggunakan Numeric Rating Scale untuk mengukur tingkat rasa sakit yang dialami pasien. Semakin tinggi nilainya berarti semakin berat rasa sakit yang diderita. Rasa sakit yang berat menyebabkan penderitaan fisik yang besar. Jika dihubungkan dengan peristiwa penyaliban, seberapa besar penderitaan yang ditanggung Tuhan Yesus? Apakah penderitaan-Nya hanya sebatas penderitaan fisik? Khotbah berikut memaparkan bahasa kasih Tuhan Yesus melalui pelbagai penderitaan yang ditanggung demi orang berdosa.

1. Penderitaan Alamiah 

Rasa perih di sekujur tubuh menggetarkan bibir Tuhan Yesus. Tubuh-Nya hampir menyerah menahan rasa sakit. Ia berusaha membuka mata-Nya untuk menatap orang-orang "yang tidak tahu apa yang mereka perbuat". Tetapi tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Bukan kelopak mata-Nya yang tidak kuat lagi tetapi langitlah yang menjadi gelap. Kegelapan selama 3 jam menambah penderitaan Tuhan Yesus di kayu salib.

Pada jam dua belas, kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam tiga. (Mrk 15:33) 

2. Penderitaan Spritual

Saat langit kembali terang, penderitaan tidak kunjung berakhir. Kali ini penderitaan yang maha dahsyat menimpa Tuhan Yesus. Allah mencurahkan cawan murka-Nya dan semua dosa manusia ditimpakan kepada-Nya. Penderitaan ini memaksa Tuhan Yesus berteriak dengan keras. 

Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Mrk 15:34)

3. Penderitaan Sosial

Orang banyak yang menerima-Nya karena mujizat sekarang menikmati adegan brutal dan berharap pertunjukkan luar biasa terjadi. Mereka menolaknya dan ingin pertunjukkan ini ditutup dengan kehadiran Elia. Penderitaan Tuhan Yesus dilengkapi oleh penolakan orang banyak.

Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata: "Lihat, Ia memanggil Elia." (Mrk 15:35)

4. Penderitaan Moral

Orang banyak terlanjur menikmati pertunjukkan dan tidak ingin berakhir begitu saja. Tetapi Tuhan Yesus telah sekarat. Mereka kuatir Ia mati sebelum Elia datang. Maka anggur asam sengaja diberikan untuk memperpanjang penderitaan-Nya.

Maka datanglah seorang dengan bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum serta berkata: "Baiklah kita tunggu dan melihat apakah Elia datang untuk menurunkan Dia." (Mrk 15:36)

5. Penderitaan Psikologi

Tuhan Yesus kemudian mengakhiri semuanya dalam kesendirian. Tanpa Allah, tanpa siapa-siapa, hanya diri-Nya dan paku besar yang menancap tangan-Nya. Rintihan pelan menutup adegan penyaliban dan bahasa kasih menunjukkan batang hidungnya. 

Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya. (Mrk 15:37)

B. Kesimpulan

Bahasa kasih Tuhan Yesus dinyatakan dengan rela menderita secara alamiah, spritual, sosial, moral, dan psikologis.

C. Kebaruan

Anggur asam adalah minuman murah yang digunakan sebagai ejekan dan bertujuan untuk memperpanjang penderitaan Tuhan Yesus.

D. Refleksi 

Saya belajar bahwa bahasa kasih bukan sekedar kata-kata tetapi rela menderita bagi orang lain.

E. Kata Bijak

Nafas terhenti tetapi bahasa kasih tetap bergerak.


No comments:

Post a Comment

Markus 15:33-37

Rela Menderita A. Ringkasan Khotbah Tenaga medis umumnya menggunakan Numeric Rating Scale untuk mengukur tingkat rasa sakit yang dialami pa...