Thursday, April 9, 2026

Lukas 24:25-33

Rela Mengajar

A. Ringkasan Khotbah

Masa pandemi berlangsung kurang lebih 3 tahun dan mengubah wajah pendidikan Indonesia. Anak-anak terpaksa belajar di rumah bersama orangtua. Berbagai penelitian memperlihatkan meningkatnya stres pada orangtua yang dipicu oleh tugas membimbing dan mengajar anak. Tidak sedikit yang menyerah dengan alasan anaknya susah diajar. Anak yang susah diajar tidak boleh menjadi penghalang dalam pengajaran. Seperti Tuhan Yesus yang rela mengajar murid-murid yang berlimpah kekurangan dan menunjukkan metode-Nya yang brilian. Khotbah berikut memaparkan metode Tuhan Yesus dalam mengajar kedua murid yang berjalan menuju Emaus.

1. Menegur 

Kedua murid berjalan dalam kekecewaan dan ketidakmengertian menuju Emaus. Kejadian demi kejadian secepat kilat dan tidak mampu dicerna. Di tengah kebuntuan ini, Tuhan Yesus hadir untuk mengajar mereka. Ia memulai dengan teguran keras untuk mengusir kebodohan dan kelambanan hati. Keduanya adalah musuh utama pembelajaran. Tuhan Yesus rela mengajar dengan menegur orang percaya.

Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! (Luk 24:25)  

Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" (Luk 24:26)  

2. Menjelaskan

Teguran hanyalah langkah pertama dari pengajaran. Dengan teliti dan sabar, Ia menjelaskan kepada mereka semua catatan dalam kitab yang menubuatkan diri dan karya-Nya. Tuhan Yesus rela mengajar dengan menjelaskan secara rinci kepada orang percaya.

Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. (Luk 24:27)  

3. Menemani

Tuhan Yesus memahami bahwa mereka membutuhkan waktu untuk mencerna penjelasan-Nya. Ini adalah bagian yang penting dalam pengajaran. Itulah sebabnya Ia mengiyakan permintaan murid-murid untuk menemani mereka. Tuhan Yesus rela mengajar dengan menemani orang percaya.

Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. (Luk 24:28) 

Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. (Luk 24:29)  

4. Mempraktikkan

Puncak dari pengajaran adalah melakukan. Tuhan Yesus tidak memperkenalkan diri-Nya melalui perkataan tetapi dengan melakukan yang Ia ajarkan. Seketika itu mereka mengenal-Nya. Semua pengajaran menjadi begitu mudah untuk dipahami. Tuhan Yesus rela mengajar dengan mempraktikkan kepada murid-murid.

Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. (Luk 24:30)  

Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. (Luk 24:3)  

Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?" (Luk 24:32)  

Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka. (Luk 24:33)  

B. Kesimpulan

Bahasa Kasih Tuhan Yesus dinyatakan dengan rela menegur, menjelaskan, menemani, dan mempraktikkan ajaran-Nya.

C. Kebaruan

Dalam Luk 24:28 kata "seolah-olah" berasal dari kata prospoieomai dalam bahasa Yunani yang berarti mengambil/memutuskan sesuatu untuk dirinya.

D. Refleksi 

Saya merasa seringkali bersikap seperti kedua murid yang bodoh dan lamban hati dalam mengikut Tuhan Yesus.

E. Kata Bijak

Guru Agung turun tangan, sirna bodoh dan lamban.


No comments:

Post a Comment

Kisah Para Rasul 2:14-15, 37-41.

Karya Roh Kudus A. Ringkasan Khotbah Minggu pertama adalah minggu terberat bagi seorang pekerja baru. Survei BambooHr tahun 2023 menemukan s...